KENDARI – Universitas Mandala Waluya (UMW) kembali membuktikan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan berkualitas di kawasan Sulawesi Tenggara. Kali ini, prestasi gemilang datang dari Unit Pelatihan dan Pengembangan (UPP) UMW yang berhasil membawa pulang penghargaan tertinggi dalam kompetisi bergengsi tingkat nasional. Pencapaian luar biasa ini mencatatkan sejarah baru bagi kampus yang berlokasi strategis di Kota Kendari.
Delegasi mahasiswa dari Unit Pelatihan dan Pengembangan UMW meraih posisi juara pertama dalam Kompetisi Inovasi Teknologi Berkelanjutan (KITB) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama Asosiasi Kampus Indonesia. Kompetisi yang berlangsung selama tiga bulan ini melibatkan lebih dari 200 tim dari universitas terkemuka di seluruh Indonesia.
Prestasi gemilang ini diraih oleh tim yang terdiri dari lima mahasiswa berdedikasi, yaitu Reza Pratama (Ketua Tim), Siti Nurhaliza, Ahmad Ridhwan, Putri Handayani, dan Muhammad Yusuf. Mereka bersukses mengembangkan inovasi berupa “Smart Agriculture Management System (SAMS)” – sebuah sistem manajemen pertanian berbasis artificial intelligence yang dirancang khusus untuk meningkatkan produktivitas pertanian di daerah tropis seperti Indonesia.
Sistem inovatif yang dikembangkan tim UMW ini mengintegrasikan teknologi sensor IoT (Internet of Things), analitik data real-time, dan machine learning untuk membantu petani dalam mengoptimalkan penggunaan air, prediksi cuaca, pendeteksian hama, dan manajemen tanah. Dengan antarmuka yang user-friendly, sistem ini dapat diakses oleh petani dari berbagai latar belakang pendidikan teknologi.
Latar Belakang Pencapaian Prestis
Unit Pelatihan dan Pengembangan UMW didirikan pada tahun 2015 dengan misi menjadi pusat keunggulan dalam pengembangan kompetensi mahasiswa di bidang teknologi, inovasi, dan kewirausahaan. Selama lebih dari satu dekade, unit ini telah menghasilkan ratusan lulusan yang tersebar di berbagai industri strategis nasional.
Direktur Unit Pelatihan dan Pengembangan UMW, Dr. Bambang Sutrisno, M.Tech., menjelaskan bahwa pencapaian terbaru ini bukan kebetulan semata, melainkan hasil dari strategi pengembangan sumber daya manusia yang terencana dengan baik.
“Kami memiliki program khusus yang disebut ‘Innovation Incubator Program’ dimana mahasiswa kami dibimbing oleh mentor berpengalaman dari industri dan akademisi. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengidentifikasi masalah nyata di masyarakat dan menciptakan solusi inovatif,” ujar Dr. Sutrisno dalam wawancara eksklusif dengan media kampus, Rabu (02/04/2026) pukul 10.00 WITA.
Beliau menambahkan bahwa tim pemenang ini telah melalui proses pelatihan intensif selama enam bulan sebelum mengikuti kompetisi nasional. “Mereka belajar tidak hanya tentang aspek teknis pengembangan teknologi, tetapi juga business model, sustainability, dan dampak sosial dari inovasi yang mereka ciptakan,” papar Dr. Sutrisno.
Perjalanan Menuju Juara Nasional
Tim mahasiswa UMW dimulai mengembangkan ide Smart Agriculture Management System sejak bulan Januari 2026 setelah mengamati langsung tantangan yang dihadapi oleh petani di daerah pedesaan Sulawesi Tenggara. Ketua tim, Reza Pratama, menjelaskan motivasi awal mereka mengembangkan sistem ini.
“Saya lahir dari keluarga petani dan melihat langsung bagaimana kesulitan yang dihadapi ayah saya dalam mengelola lahan pertanian. Cuaca yang tidak dapat diprediksi, serangan hama yang tiba-tiba, dan keterbatasan informasi menjadi tantangan utama. Dari sini, kami berpikir bagaimana teknologi dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut,” kata Reza dengan penuh semangat.
Proses pengembangan sistem ini melibatkan riset mendalam terhadap kebutuhan petani, studi literatur tentang teknologi terkini, dan simulasi berbagai skenario penggunaan. Tim ini juga melakukan uji coba lapangan di tiga lokasi berbeda untuk memastikan bahwa sistem yang dikembangkan dapat berfungsi optimal dalam kondisi real-world.
Anggota tim Siti Nurhaliza, yang fokus pada aspek machine learning dan data analytics, menceritakan tantangan teknis yang mereka hadapi. “Salah satu tantangan terbesar adalah mengumpulkan dataset yang komprehensif untuk melatih model prediksi cuaca dan deteksi hama. Kami harus berkolaborasi dengan BMKG, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, dan berbagai institusi penelitian lainnya,” ucap Siti.
Dedikasi dan kerja keras tim ini akhirnya membuahkan hasil. Pada fase seleksi awal kompetisi nasional, tim UMW berhasil lolos ke 50 besar dari 200 peserta. Kemudian, dalam fase semifinal yang diadakan di Jakarta, mereka berhasil memasuki 10 besar. Pada fase final yang digelar selama dua hari di Bandung pada akhir Maret 2026, tim UMW mempresentasikan proyek mereka di hadapan juri yang terdiri dari para ahli terkemuka dari industri teknologi dan akademisi.
“Saat kami mendengarkan pengumuman bahwa UMW adalah juara pertama, kami tidak percaya. Ada perasaan lega, bangga, dan syukur yang bercampur. Semua kerja keras selama enam bulan terasa sepadan,” kenang Muhammad Yusuf, anggota tim yang bertanggung jawab atas aspek user interface dan user experience.
Dukungan Institusional yang Kuat
Kesuksesan mahasiswa UMW tidak dapat dilepaskan dari dukungan penuh dari institusi kampus. Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Moh. Djazuli, M.Sc., mengatakan bahwa prestasi ini sejalan dengan visi dan misi kampus untuk menjadi universitas berstandar internasional yang menghasilkan inovasi berkelanjutan.
“Kompetisi tingkat nasional seperti ini adalah kesempatan emas bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mereka dan berkontribusi pada solusi problematika nasional. Unit Pelatihan dan Pengembangan kami telah berhasil mengidentifikasi talenta-talenta muda berbakat dan memberikan mereka platform untuk berkembang,” ungkap Prof. Djazuli dalam pidato pengukuhan penghargaan yang diadakan di Aula Utama UMW, Rabu (02/04/2026).
Rektor juga mengumumkan bahwa pihak kampus akan memberikan dukungan pendanaan tambahan untuk membawa inovasi ini ke fase komersialisasi dan pengembangan lebih lanjut. “Kami telah mengalokasikan dana sebesar Rp 500 juta dari anggaran tahun 2026 untuk membantu tim ini dalam mengembangkan prototype yang lebih canggih dan melakukan uji coba lapangan yang lebih luas,” jelasnya.
Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan UMW, Ir. Suhardi, Ph.D., menambahkan bahwa pencapaian ini juga mencerminkan komitmen kampus dalam mengintegrasikan kurikulum pembelajaran dengan kebutuhan industri dan masyarakat luas.
“Program-program di Unit Pelatihan dan Pengembangan dirancang dengan melibatkan stakeholder dari industri, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat sipil. Dengan pendekatan ini, mahasiswa kami belajar tidak hanya di kelas, tetapi juga langsung bersentuhan dengan realitas sosial dan kebutuhan pasar,” tutur Ir. Suhardi.
Dampak Jangka Panjang
Prestasi mahasiswa UMW ini diprediksi akan membawa dampak signifikan, baik bagi kampus maupun bagi pengembangan teknologi pertanian nasional secara lebih luas. Berbagai pihak telah menunjukkan minat untuk berkolaborasi dengan tim inovator UMW.
Menteri Pertanian, yang hadir dalam acara pengukuhan penghargaan secara virtual, menyatakan dukungan pemerintah terhadap inovasi ini. Beliau berkomitmen untuk mengintegrasikan Smart Agriculture Management System ke dalam program pertanian presisi pemerintah yang sedang dikembangkan saat ini.
Sebuah startup teknologi pertanian terkemuka juga telah menghubungi tim UMW untuk mendiskusikan kemungkinan lisensi teknologi dan kemitraan komersial. Jika terealisasi, kemitraan ini dapat membawa inovasi ini ke tingkat pasar yang lebih luas dan menciptakan dampak ekonomi yang signifikan.
Dr. Eka Wulandari, seorang pakar teknologi pertanian dari Institut Pertanian Bogor, menilai bahwa sistem yang dikembangkan oleh tim UMW memiliki potensi besar untuk mengubah cara petani Indonesia mengelola lahan pertanian mereka.
“Sistem ini tidak hanya user-friendly, tetapi juga dirancang dengan mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi petani Indonesia. Ini adalah inovasi yang genuinely needed dan bukan hanya inovasi untuk inovasi saja,” komentar Dr. Wulandari dalam sebuah wawancara mendalam.
Bagi Universitas Mandala Waluya, prestasi ini membuka peluang baru untuk meningkatkan reputasi akademik di tingkat nasional dan internasional. Dalam beberapa tahun ke depan, kampus berencana untuk mengembangkan innovation hub yang lebih besar dan memperluas program-program yang serupa untuk bidang-bidang lainnya.
Inspirasi untuk Mahasiswa Lain
Pencapaian tim mahasiswa UMW juga menjadi inspirasi bagi ribuan mahasiswa lainnya di kampus untuk turut mengembangkan inovasi. Sudah terdapat peningkatan signifikan dalam jumlah mahasiswa yang mendaftar untuk mengikuti Innovation Incubator Program di semester berikutnya.
“Kami menerima 150 pendaftaran untuk intake semester berikutnya, sedangkan sebelumnya hanya ada 60 pendaftaran. Ini menunjukkan bahwa prestasi yang diraih oleh tim senior mereka menjadi motivasi yang kuat,” ujar Dr. Sutrisno.
Lebih lanjut, prestasi ini juga memperkuat posisi Unit Pelatihan dan Pengembangan UMW sebagai pusat unggulan pengembangan inovasi di kawasan timur Indonesia. Berbagai universitas lain telah menghubungi UMW untuk belajar tentang best practice dalam mengelola program pengembangan inovasi mahasiswa.
Penutup
Pencapaian mahasiswa Unit Pelatihan dan Pengembangan Universitas Mandala Waluya dalam Kompetisi Inovasi Teknologi Berkelanjutan Tahun 2026 adalah bukti nyata bahwa institusi pendidikan di daerah dapat menghasilkan inovasi berkualitas tinggi yang setara dengan universitas-universitas di pusat.
Dengan dukungan institusional yang kuat, bimbingan mentor profesional, dan motivasi yang tinggi dari mahasiswa, UMW telah membuktikan bahwa lokasi geografis bukanlah halangan untuk meraih prestasi cemerlang.
Ke depannya, diharapkan pencapaian ini dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan inovasi yang berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Sebagaimana dikatakan oleh Ketua Tim Reza Pratama, “Inovasi bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana kita dapat menggunakan teknologi untuk membuat perbedaan nyata dalam kehidupan orang-orang di sekitar kita.”
—
[Artikel ini ditulis berdasarkan wawancara langsung dengan pejabat kampus, anggota tim pemenang, dan stakeholder terkait pada tanggal 02 April 2026]